Informasi Seputar Pendidikan

Gudang Informasi Seputar Pendidikan - Wahana menggapai sukses

Senin, 11 Juli 2011

Mandi Balimau : Tradisi Tapan Menyambut Ramadhan

Oleh : Mukhnizar Sabri, S. IP

Islam lahir dan hadir di tengah-tengah masyarakat bukan dalam kondisi umat yang hampa budaya. Kedatangannya meberikan pencerahan bagi budaya itu sendiri. Budaya yang mungkin berbau “syirik” yang bertentangan dengan nilai-nilai aqidah Islam “diluruskan “ sehingga bersih dari niali-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Nilai-nilai Islam juga menginspirasi lahirnya kebiasaan, tradisi dan budaya yang sejalan dengan nilai Islam. Islam yang datang dengan pendekatan persuasive yang menyebabkan tumbuh-suburnya budaya Islami, meskipun mungkin secara eksplisit tidak diatur dalam ajaran Islam (Alquran dan Hadits). Budaya Islami, betapapun kadang-kadang dipandang bid’ah oleh segelintir ulama, namun bagi kaum muslimin jauh berarti ketimbang budaya sekularis.

Agaknya yang penting diperhatikan oleh masyarakat (umat Islam), dalam konteks budaya balimau, adalah menjaga agar ritual balimau ini dilakukan dengan memperhatikan sungguh-sungguh nilai ajaran Islam. Sebutlah misalnya : Tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan (tepian mandi perempuan jauh dari kemungkinan intipan laki-laki demikian pula sebaliknya); menutup aurat; tidak dijadikan ajang pacaran dll. Hal ini penting, agar perbuatan (kebiasaan) yang dilakukan dengan niat baik (suci)justru ternoda oleh cara melakukannya yang tidak baik dan benar(bertentangan dengan ajaran Islam).


Budaya Balimau merupakan kebiasaan atau tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Minagkabau, Riau dan Kerinci sehari menjelang masuknya bulan Ramadhan. Balimau merupakan ritual masyarakat dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Balimau dilakukan masyarakat dengan menggunakan kasai, yang terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan jeruk nipis, daun pandan yang diaduk dengan air lalu disiram ke tubuh ketika mandi. Ritual ini dilakukan bersama-sama di tempat pemnadian umum (sungai dalam arti tepian mandi khusus untuk laki-laki atau perempuan) atau boleh juga dilakukan di rumah.

Karena memang sudah menjadi budaya, “kurang pas” rasanya kalau menyambut bulan suci Ramadhan tanpa mandi balimau, meskipun bukan kewajiba selaku seorang muslim. Dan tradisi balimau ini dapat disebut sebagai ungkapan rasa gembira dan syukur karena dapat berjumpa kembali dengan bulan yang penuh rahmah (rahmat), maghfirah (ampunan) dan itqun minannar (terhindar dari api neraka) ini.

Tentu saja tradisi balimau ini hanya terbatas pada pembersihan diri (fisik) namun dapat diartikan juga sebagai “lambang” keharusan membersihkan hati. Tradisi balimau ini sangat popular dikalangan anak muda. Ada tempat tertentu yang dipandang “bagus” untuk melaksanakan ritual budaya ini. Di Tapan umunya anak muda malakukannya di sungai Muara Sako. Tempat ini memang sudah menjadi salah tempat wisata bagi turis-turis local di Pesisir Selatan. Kecuali itu, di Muara Sako juga terdapat tempat wisata kuliner. Selain makanan khas Minang lainnya, juga terdapat dendeng batokok dan empek-empek yang jarang ada di tempat lain.

Budaya balimau ini tidak terbatas di kalangan masyarakat umum, tetapi juga oleh kelompok-kelompok formal. Sewaktu masih dipimpin Bupati Fauzi Siin, secara resmi Pemkab Kerinci bersama Pemkab Pesisir Selatan setiap tahunnya melakukan ritual balimau ini di Muara Sakai, kecamatan Pancung Soal, Pesisir Selatan. Muara Sakai merupakan pusat pemerintahan kerajaan Inderapura tempo dulu. Ada keterikatan historis yang jauh lebih lama antara Kerinci dengan Pesisir Selatan selain pernah bersama-sama dalam naungan administrasi pemerintahan Pesisir Selatan Kerinci (PSK) di tahun 50-an. Selamat Balimau, Selamat menjalan ibadah puasa Ramadhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar