Informasi Seputar Pendidikan

Gudang Informasi Seputar Pendidikan - Wahana menggapai sukses

Jumat, 29 Juli 2011

Karya Siswa : Cerpen dan Puisi

Gajah Yang Sombong

Cerpen Karya : Pindy Wilonia, Kls VIII.3

Di sewbuah hutan, hiduplah segerombolan semut merah yang tinggal di dalam sebuah pohon besar. Kerajaan semut tersebut dipimpin oleh Ratu Hana yang amt cantik dan jelita. Setiap hari seluruh warga semut yang dipimpinnya pergi mencari makanan di sekitar tempat tinggal mereka. Namun padasuatu hari, saat warga semut dalam perjalanan mereka bertemu dengan seekor anak gajag kecil. Salah satu warga semut menyapa anak gajah tersebut.

“Hai anak gajah, dari mana asalmu? Mengapa kami baru melihat kamu di sisni sekarang?” tanya salah seorang warga semut.
“Hai semut kecil! Perkenalkan, namaku Dodo, aku anak Ibu Tata. Kalian sedang apa?” tanya Dodo kepada warga semut.
Kami sedang bergotong royong mencari makanan. Kamu sendiri sedang apa?” tanya Ratu Hana.

“Oh aku. Aku juga mau mencari makanan. Namun aku kasihan pada kalian, yang harus susah payah memanjat pohon kecil ini, demi sedikit makanan. Coba ilhat aku! Dengan sedikit tarikan aku sudah mendapatkan makanan yang lezat-lezat. Kasihan sekali kalian,” sindir gajah Dodo pada semut.
Dodo akhirnya pergi dengan membawa banyak buah-buahan yang dmasukkan ke keranjang pemberian ibunya. Dodo tidak meninggalkan satu buahpun untuk semut. Bahkan dengan sombongnya, Dodo menghentakkan kakinya dengan keras, lalu memberikan senyum ejekan pada semut.

“Huh! Sombong sekali gajah itu,” kata salah seorang warga semut.
“Biarkan saja ia mengambil buah itu, kan masih banyak lagi makanan di sekitar ini, yuk kita cari lagi” kata Ratu Hana.

Dodo bukan saja sombong, tapi juga jakat. Ia menutup rumah warga semut dengan dedaunan dan batu. Bahkan ia juga membuang kotorannya di muka rumah warga semut merah itu. Seluruh warga semut merasa marah dan kesal terhadap gajah Dodo. Mereka mengusulkan kepada Ratu Hana agar menyerang gajah Dodo. Namun, Ratu Hana menasehatkan agar warga semut tetap sabar dan tabah menghadapi gajah sombong itu.
Pada suatu hari, Ratu Hana bertemu dengan Ibu Tata di depan rumah semut merah. Ibu Tata adalah Ibu gajah yang baik, tapi sayang anaknya Dodo sangat sombong. Ratu hana bersama warganya membicarakan kejahatan gajah Dodo kepada mereka. Mendengar pengaduan warga semut merah ini, Ibu gajah Tata pulang dan memarahi Dodo. Dimarahi Ibunya, Dodo bukannya sadar, malah berniat mengajak teman-temannya menyerang kerajaan semut merah.

Esok harinya, Dodo bersama temannya pergi menyerang rumah semut merah. Kebetulan seluruh warga semut merah sedang bersiap-siap akan mencari makanan.
“Hei, semut-semut kecil, apa yang telah kalian katakan pada ibuku, sehingga ia memarahiku?” sergak Dodo dengan suara lantang.
“Dodo, kami hanya menyampaikan kepada Ibumu agar ia mendidik kamu lebih baik lagi, agar tidak sombong dan jahat.” Jawab Ratu Hana dengan lemah lembut.
“Kurang ajar kalian. Sekarang terima pembalasan dariku! Ayo teman-teman, serang .....!” perintah Dodo.

Akhirnya terjadilah peperangan dahsyat antara gerombolan semut merah dengan gajah. Gajah menginjak-injak semut yang kecil. Semut mengerubuti bada, perut, belalai, telinga hingga mata gajah. Gajah pun lumpuh, kemudian tumbang ke tanah, dengan suara rintihan yang memelas. Gajah Dodo dan teman-temannya kalah, dan meminta maaf kepada kawanan semut merah. Dodo dkk berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan jahat dan sikap sombongnya itu. Warga semut merah beserta ratunya memaafkan Dodo dan teman-temannya. Akhirnya anak gajah dan semut merah jadi berteman.

AYAH SEJATI

Puisi Karya : PINDI WILONIA (VIII.3)


Disaat aku masih terlelap
Disaat fajar mulai terbit
Engkau telah melangkahkan kaki
Dan mengayunkan tangan
Untuk mencari nafkah
Bagi keluarga tercinta

Hingga fajar terbenam
Engkau datang membawa rezki
Hanya untuk keluargamu

Demi keluarga kau rela mengorbankan diri
Mengasah fikiran dan memberi ilmu
Untuk anak didikmu

Oh....... ayah
Sungguh Mulia dirimu
Kau tunaikan kewajibanmu
Dengan tekun dan sabar
Kaulah pahlawan ku,
Pahlawan terhebat yang pernah kukenal
Pahlawan keluarga